Minggu, 13 November 2016

FILOSOFI KEJU




Suatu hari,  saya dan seorang teman berjalan-jalan di salah satu mall ternama di Surabaya. Saya kasih clue saja ya, mall ini berseri 1-5, hampir bisa ngalahin sinetron Tersanjung yang legendaris itu.  Emang Rangga doang yang legendaris ? Helloww..
 Oke skip.
Saya pergi menemaninya karena dia memerlukan sepatu boots untuk menghangatkan kakinya di luar rumah pada musim salju. Dia akan menghabiskan sisa tahun 2016 ini di suatu negara bersalju selepas Lebaran nanti.
Setelah menemukan sepasang sepatu boots yang cukup oke untuk wanita ; ringan, anti air, dan dapet diskon 30%, kamipun memutuskan untuk mencari makanan. Pilihan kami jatuhkan ke sebuah cafe makanan yang cukup kekinian. Dengan konsep pesta kebun indoor dan disambangi alay dari berbagai macam tipe. Dari yang hijabers, model Korea-Koreaan, sampai dengan tipikal anak metropolitan dengan baju sabrina. Ini dia, pikir saya, Melting Pot nya para alay, tempat mereka hangout, selfie, bikin vlog dan melakukan kegiatan alay lainnya. Tidak ada yang salah, ini hanya fase menuju kedewasaan yang harus mereka lalui, sebagai generasi setelah era 90an.
Satu-satunya hal yang salah adalah harga makanan yang disajikan. Mahal sekali. Sebotol air mineral 600ml dihargai 15 ribu rupiah. Beneran sarang kapitalis. Tetapi sebagai seorang PNS Kemenag, bagi saya haram hukumnya menolak makan di tempat yang sudah dilabeli cap halal oleh MUI. Lagian dalam kesempatan ini teman saya yang traktir kok. Jadi kenapa saya yang harus senewen.
“Its okey, cheese is never fail”, kata teman saya setelah mendengar saya ngamuk-ngamuk dengan harga makanannya. Setelah saya perhatikan, memang sebagian besar menu  di cafe ini menggunakan keju sebagai elemen pelengkap masakannya. Jadilah saya memesan waffle dengan topping sosis ayam dan keju mozarella yang tampilan di fotonya cukup menggiurkan, sedangkan teman saya memilih pancake mushroom mozarella. Minumnya es teh manis (Mbak-mbak waitressnya mencatat sambil menaikkan alis). Lidah boleh western, tenggorokan tetap Indonesia dong.
Tidak berapa lama, makananpun datang. And the food is as seen on picture. Keren.
Kami makan sambil mengobrolkan banyak hal. Tentang kehidupan dengan segala pahit manisnya, permasalahan di tempat kerja, permasalahan di rumah (tanpa tangga, karena kebetulan kami masih single), mobil, kucing, ayam, dan sebagainya dan sebagainya. Dan begitulah kami mengobrol sambil makan, sampai saya menyadari sesuatu.
Waffle dan pancake yang kami pesan ukurannya cukup besar. Tetapi nampaknya bisa saya habiskan semuanya. Sesuatu yang jarang terjadi untuk makanan sebesar itu. Biasanya kalau nggak habis akan saya tinggal saja, atau mungkin saya bungkus pake tissue (yaelah). Tapi kali ini tidak, saya ingin rasa keju itu ada terus di lidah.  Saya bilang pada teman saya bahwa kayaknya dia benar. Keju tidak pernah gagal. Teman saya tertawa dan kami mulai membahas keju.
Kami sepakat bahwa kalimatnya benar, tetapi kami yakin bahwa kalimat tadi punya makna yang lebih dalam. Kamipun merumuskan beberapa hal tentang keju yang mungkin bisa diteladani semua orang. Kira-kira begini sih.
1.              Penampilan Bukan Segalanya
Keju punya penampilan yang tidak ‘wah’, sepintas ia terlihat sangat simple. Kuning, dengan tekstur halus, dan kadang berongga. Sesederhana itu. Maksud saya, ia tidak cantik dan berwarna-warni seperti paprika yang terlihat segar dan menawan. Tetapi  cita rasa keju yang lezat membuat penampilannya jadi tidak penting lagi. Lagian, siapa sih yang mau makan waffle paprika?
2.              Memberi makna pada lingkungan di sekitarnya
Ketika diolah dengan bahan makanan yang murah seperti singkong atau pisang, keju akan membuatnya lebih lezat dan itu otomatis membuat harganya menjadi lebih mahal. Lain halnya dengan bahan yang sudah mahal, seperti daging, roti atau kentang. Keju dapat membuatnya menjadi lebih mahal lagi. Meskipun ia adalah elemen pendamping, keju mampu menaikkan value makanan yang ‘didampinginya’.
3.              Kesempurnaan Tidak didapat secara instant.
Keju didapatkan dengan cara memfermentasikan susu sapi. Proses ini butuh waktu yang tidak singkat dan keahlian yang mumpuni. Tetapi keju membuktikan, bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Persis seperti kata JKT48. Ingat, saat itu saya makan di cafe yang penuh dengan para alay. Jadi JKT48 masih relevan.
4.              Menginspirasi orang untuk ‘jump to the next level’
Saya jadi tertarik untuk makan glesjot. Sejenis keju berbahan susu kambing dari Norwegia. Teman saya berkata bahwa mungkin saja saya bisa ikut seminar atau short course atau yang paling keren, ambil S3 di Norwegia. Jadi selain dapat cum, dapat gelar dan memenuhi BKD, saya bisa makan glesjot disana. Boleh juga sarannya, akademis abis. Bisa dibilang, keju telah menginspirasi saya untuk selangkah lebih maju.
 5.              Always bring The Happiness
Dengan keju mozarella yang meleleh-leleh dari atas waffle, percakapan jadi terasa menyenangkan meski topik bahasannya lumayan berat. Saya perhatikan, teman sayapun tampak sangat menikmati makanannya disela-sela obrolan kami. Dan kami jadi lebih ceria setelahnya.
Mungkin alasan itu juga yang membuat cafe ini didatangi para alay. Mereka memilih melepaskan galau dengan makanan nan lezat ini ketimbang fly pake cimeng. Tampaknya keju bisa jadi alat kampanye yang positif dalam berperang melawan narkoba. Harganya juga masih terjangkau saku pelajar.

Jadi itulah beberapa hal tentang keju yang mungkin kelihatan sangat sepele, tetapi semestinya dapat diteladani manusia. Seorang bijak pernah berkata bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini merupakan sarana manusia untuk belajar. Dan tidak ada salahnya belajar dari hal yang luput dari perhatian kita, seperti keju. Yang berpenampilan sederhana namun bercita rasa tinggi, tidak pernah berhenti berproses demi meningkatkan kualitasnya, dapat menambah value lingkungan di sekitarnya, dan keberadaanya menyebarkan kebahagiaan.
So, ladies and gentlemen, this is one of theory about cheese
Keju tidak pernah gagal.

3 komentar:

  1. Mampir yeay~ suka sama filosofinya tentang keju. :D
    mampir blog aku ya: http://movgeeks.net

    BalasHapus
  2. Saat makan soes kering keju dikamar, saya sejenak mikir: apa keju dan cokelat punya filosofi, sementara semua objek di dunia pasti punya? Dan pas saya baca tulisan mbak, saya jadi senyum sendiri karena filosofi mbak dan saya ga jauh beda :)

    BalasHapus